Studi Kesesuaian Lahan Budidaya Ikan Kerapu dalam Keramba Jaring Apung dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis di Teluk Raya Pulau Singkep, Kepulauan Riau
Melalui perkembangan teknologi secara umum dewasa ini, Sistem Informasi
Geografis
(SIG) merupakan salah satu pilihan
dalam penentuan lokasi untuk pengembangan budidaya laut, khususnya
ikan kerapu. Tujuan
penelitiaan adalah menentukan kesesuaian
lokasi perairan yang berpotensi untuk melakukan kegiatan budidaya ikan kerapu dalam karamba jaring apung di Teluk
Raya, Pulau
Singkep Kepulauan Riau
berdasarkan model spasial variabel data lapangan.
Potensi
perikanan laut di pulau ini
memiliki prospek yang sangat baik.
Hal ini terlihat dari banyaknya pendirian rumah penangkapan ikan teri (kelong) disepanjang perairan pulau Singkep. Salah satu komoditas unggul
di
pulau ini yang belum
terekspos secara luas adalah budidaya ikan kerapu. Usaha budidaya ikan kerapu
di
keramba
jaring apung belum terkelola
dengan baik karena salah satu faktor kendala
adalah kurangnya informasi
terkait pemilihan lokasi budidaya yang sesuai
dengan pertumbuhan ikan kerapu.
Ketepatan pemilihan lokasi adalah salah satu faktor yang
menentukan keberhasilan usaha budidaya ikan kerapu. Beberapa
pertimbangan yang perlu
diperhatikan dalam penentuan lokasi adalah kondisi teknis yang
terdiri dari
parameter fisik, kimia dan biologi dan non teknis yang berupa pangsa pasar,
keamanan dan sumberdaya manusia (Raharjo,
2008
; Mastu, 2011). Salah satu
kesalahan dalam pengembangan budidaya adalah lingkungan perairan yang
tidak
cocok
(Hartoko &
Alexander, 2009). Melalui
perkembangan teknologi secara umum dewasa
ini,
Sistem Informasi Geografis (SIG)
merupakan salah satu pilihan dalam penentuan lokasi ideal untuk pengembangan budidaya laut, khususnya ikan
kerapu. SIG merupakan analisis
secara spasial
(keruangan) yang dapat
memadukan beberapa
data
dan informasi tentang budidaya perikanan
dalam bentuk lapisan (layer) yang
nantinya dapat ditumpanglapiskan
(overlay) pada data
yang lain, sehingga menghasilkan suatu keluaran baru
dalam bentuk peta tematik
yang mempunyai tingkat efisiensi
dan akurasi yang cukup
tinggi.
Penelitian ini diawali dengan survey
lapangan pada bulan Maret 2012 di
Teluk Raya,
Pulau Singkep Kepulauan Riau, kemudian pengumpulan data dan
pengambilan sampel di Teluk Raya Pulau Singkep, Kepulauan Riau bulan April 2012 selanjutnya analisis data di Balai Penelitian dan Observasi Laut, Jembarana Bali dan di Fakultas
Perikanan
dan Ilmu Kelautan,
Universitas Diponegoro Semarang.
Metode yang
dipakai dalam
penelitian ini
adalah
metode
survey. Penentuan titik lokasi sampling
dengan metode purposive sampling
yaitu dengan cara acak yang
mengacu pada fisiografi lokasi. Koordinat pengambilan sampel dicatat
dengan
bantuan Global Positioning System (GPS). Metode penelitian ini meliputi dua tahapan yaitu pengumpulan data dan analisa data. Berdasarkan perhitungan selang kelas klasifikasi kesesuaian budidaya keramba dibagi ke dalam 3 kelas yaitu sangat sesuai, sesuai, dan tidak sesuai.
Zona peruntukan
budidaya
ikan
kerapu
yang termasuk
kedalam
kelas sangat sesuai berada pada daerah yang terlindung
dan
kadar MPT yang
sangat
rendah. Kelas sangat sesuai juga berada di tengah Teluk Raya namun tidak
direkomendasikan untuk dijadikan
lokasi budidaya ikan kerapu karena merupakan akses jalur pelayaran. Daerah yang
direkomendasikan untuk dilakukan usaha
budidaya adalah di
sebelah barat dari hasil peta yang diperoleh karena merupakan
daerah yang cukup terlindung
dan tidak berada pada jalur pelayaran. Direktorat pembudidayaan (2003) merumuskan didalam petunjuk teknis budidaya ikan laut
di jaring apung, salah satu syarat lokasi untuk budidaya ikan kerapu adalah tidak menghambat
jalur pelayaran.
Pemilihan lokasi yang
tepat pada awal kegiatan budidaya merupakan salah
satu faktor keberhasilan dalam usaha budidaya yang berkelanjutan.
Hasil analisis
yang diperoleh menunjukkan bahwa teknologi penginderaan jauh yang
dipadukan dengan nilai hasil pengukuran lapangan dapat memberikan informasi awal untuk
penentuan
lokasi budidaya yang
baik. Setelah proses overlay terlihat bahwa
perairan Teluk Raya dengan luas ±84,30
km2 cukup potensial
untuk dilakukan usaha budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba jaring apung yang terbagi
kedalam 3 kelas kesesuaian yaitu : sangat sesuai (3,9 - 5), sesuai (2,7 - 3,8) dan
tidak sesuai (1 - 2,6).

Sistem Informasi Geografis, sangatlah penting bagi para pembudidaya karena dapat membantu mempermudah menentukan lokasi budidaya yang sesuai dengan kultivan, maka dengan adanya kemajuan teknologi ini gunakanlah dengan baik.
BalasHapus